Rabu, 19 Agustus 2020

Kontemplasi Teknologi

ILMU pengetahuan dan teknologi kerap disandingkan. Ibarat dua sisi dalam sekeping uang. Iptek, kita menyebutnya. Padahal, itu dua hal berbeda. Orang berteknologi belum tentu berpengetahuan.

Di suatu era, manusia purba punya teknologi memantik api. Tapi mereka tidak memiliki pengetahuan kalau api bisa membunuh bakteri. Begitu pun bangsa Babilon, punya sistem angka yang canggih untuk penanggalan. Peradaban itu dapat dilacak pada lembaran- lembaran tanah liat yang ditemukan di wilayah antara sepanjang sungai Tigris dan Eufrat (kini Irak).

Selain itu, orang Babilon dan Mesir juga pintar dalam bidang astronomi dan pandai meramal kapan terjadi gerhana. Namun, kala itu, mereka belum menelisik mengapa fenomena alam itu terjadi.

Masyarakat Yunani lah yang kemudian mulai menggugat semesta ini dengan pertanyaan why. Bukan cuma when dan who. Dari sini mereka kemudian meruntuhkan mitos-mitos tentang dewa-dewi. Ilmu pengetahuan pun akhirnya berkembang hingga melahirkan algoritma data seperti sekarang.

Namun, di zaman serbacanggih ini, daya kritis manusia justru malah tumpul. Asal nrimo. Dari bangun tidur hingga mau tidur lagi, asyik memeluk gawai. Tanpa pernah berpikir mengapa dan untuk tujuan apa perkakas tersebut diciptakan.

Dapat info sumir, tergesa dijadikan warta tanpa menyelidik asal-usulnya. Dapat link berita, langsung share tanpa mengecek kebenarannya. Smartphone, stupid people ! Begitulah kira-kira kita menyebutnya 😉

Mungkin ketergesaanlah yang kini menumpulkan daya kritis manusia. Malas berkontemplasi, merenung diri. Pergi dan pulang kerja yang jadi rute sehari-hari, andalkan Waze. Menghindari masalah, tanpa sadar dia sendiri salah satu bagian dari masalah di kota ini.

Lihat panorama pantai dan sawah, keluarkan hp, jepret. Tanpa ada upaya melihat airnya yang mulai dilarungi plastik. Tanpa mau tahu nasib petaninya yang kian sekarat.

Boro-boro mau mendengar indahnya debur ombak dan merdunya kicau burung. Semua anugerah Tuhan itu berlalu begitu saja. Tidak melahirkan seniman, apalagi ilmuwan. Jadi, tak usah heran, jika yang kini marak muncul cuma clickbaiters  dan  budak konten, pemburu adSense.😊

#teknologi #technology #culture #kebudayaan



foto by: Unsplash/Karol Kucza




Senin, 03 Agustus 2020

Merawat Kewarasan

Ini pohon jeruk. Saya tanam sebelum pagebluk. Tadinya iseng aja. Sekarang ada waktu luang merawatnya. Minimal bisa ikut menyiram, pagi dan sore hari.

Selain kerja di rumah, kegiatan saya belakangan ini cuma makan, nemenin anak main dan belajar, baca, tidur, scroll2 layar hape. Bosen. Sekarang coba-coba ngurus tanaman, sekalian merawat kehidupan makhluk kecil ini dan menjaga kewarasan.

Selama ada kebijakan pembatasan sosial dan orang kudu berdiam di rumah, banyak yang merasa terpenjara di rumah sendiri. 

Di tengah kondisi ini, saya jadi ingat cerita kawan yang pernah mondok di LP Cipinang lantaran memperjuangan demokrasi. Untuk mengusir sepi, dia dan teman-temannya, melakukan kerja-kerja kecil, seperti merawat tanaman, beternak ayam/ikan, atau bermain sepak bola, sesuatu yang jarang mereka lakukan ketika di luar sana. 

Kita, yang sekarang di karantina ini, sebenarnya lebih beruntung. Apalagi yang masih bisa makan-tidur enak dan punya penghasilan lumayan. Buat yang kehilangan pekerjaan atau penghasilannya megap-megap dan pas-pasan, ya mesti pintar bersiasat mengatur pengeluaran.

Ini memang zaman baru yang tidak lagi normal. Berusahalah untuk tetap sehat dan waras. Salam 🙏

#Covid-19 #Tanaman #Workfromhome #Flora #Jeruk #Gardener

Minggu, 02 Agustus 2020

Belajar Mencintai Aksara

SEJAK hadirnya telepon pintar, komunikasi manusia kini lebih mengandalkan aksara. Dari mulai mengunggah status, memesan go-food, hingga berbalas pesan via whatsapp, kita perlu mengetik dan merangkai huruf.       

Apa jadinya dunia tanpa aksara? Ide-ide yang mengendap di kepala maupun rasa yang bersemayam di hati, tak kan mungkin muncul dalam lini masa di media sosial. Manusia-manusia, yang katanya modern itu, tentu akan blingsatan jika tidak bisa mengungkapkan isi kepala maupun hati mereka.

Dulu, sebelum mengenal bahasa, konon manusia berkomunikasi dengan gestur atau gerak tubuh. Dari situ kemudian muncul bahasa. Charles Darwin, bapak teori evolusi bilang, bahasa dimulai dari potongan-potongan lagu atau mantra. Kalau menurut Noam Chomsky, itu cuma kecelakaan akibat mutasi genetik yang aneh. 

Entah teori mana yang benar. Tidak jelas pula siapa yang kemudian pertama kali menciptakan aksara hingga homo sapiens kemudian mengenal tulisan. Sebagian ada yang bilang di Lembah Mesopotamia, Mesir, sebagian lain mengatakan di Meksiko. Naskah-naskah kuno ini, kemudian ditemukan di banyak tempat dengan masing-masing karakteristiknya, hingga kemudian yang kini disepakati bersama adalah alfabet latin. 

Dulu, sebelum era internet, manusia berkomunikasi melalui surat, tapi mungkin lebih sering secara lisan, atau sesekali lewat telepon rumah. Dengan kemajuan teknologi, tentu saja semakin memudahkan kita dalam berkomunikasi, baik lisan maupun tulisan.  Kini, untuk sekadar memesan bakso, kita tinggal mengetik serangkaian huruf, berikut emoticon 😏-nya. Agar si abang gojek mudah mengantarkannya ke rumah, Anda juga bisa melengkapinya dengan mengunggah map atau peta. 

Begitu pun jika kita ingin membuat janji bertemu dengan kawan untuk sekadar ngopi. Itupun tidak ada jaminan ketika jumpa, tidak terdistraksi hal lain, entah mengunggah status atau pun mengabadikan momen pertemuan, yang tentunya lagi-lagi membutuhkan deretan huruf sebagai caption atau keterangan gambar.

Intinya, manusia kini mesti berdamai dan mencintai aksara. Ya, minimal bisa menyusunnya menjadi kalimat yang baik dan benar. Kalau menulis status saja tidak becus, bagaimana pula mau membuat caption yang bagus untuk jualan di instagram?

Suka tidak suka, aksara kini begitu berharga. Apalagi, kini kita mesti bermasker dan menjaga jarak, tidak mungkin kan harus teriak-teriak? 😏

Selamat Hari Senin... Salam sehat jiwa raga.✌


foto by: Unsplash.com/Avaro Reyes


#aksara #bahasaindonesia #komunikasi #teknologi #sosial 


03-07-2020

 .