INI cerita untuk kalian yang merasa terpenjara di rumah. Pandemi, pagebluk, wabah, atau entah apapun namanya, telah membatasi aktivitas sebagian dari kita di luar rumah. Tapi, tak mengapa. Selama bekerja atau belajar di rumah, kita kini jadi leluasa menekuni hal lain, semisal berkebun, memasak, menonton drama Korea, berolahraga, membaca, atau hal berguna lainnya.
Selain bekerja dari rumah, saya sendiri kini punya banyak waktu untuk menulis dan membaca. Salah satu yang baru saya tuntaskan adalah buku kecil karangan Mochtar Lubis ini. Buku saku yang berkisah tentang perang di Korea ini, saya beli di Yayasan Obor, Jalan Plaju, Menteng, Jakarta Pusat. Dari buku tipis yang hanya berjumlah 152 halaman ini, saya baru tahu kalau di era 1950-an, ada wartawan Indonesia yang terjun langsung meliput palagan di Semenanjung Korea tersebut.
Dia berangkat
pada 21 September 1950, pukul 9.30 pagi dari Bandara, Kemayoran, Jakarta. Di era
itu, Indonesia sendiri baru menata pemerintahan. Sebab, selama kurun 1945-1949,
republik yang masih muda ini, sibuk konsolidasi serta bertempur dan berunding
dengan pasukan sekutu dan Belanda.
Seperti halnya Ignatius Haryanto, yang menulis kata pengantar buku
ini, saya juga tidak menemukan penjelasan
bagaimana Mochtar kala itu bisa diundang PBB meliput salah satu perang paling
epik di Asia ini.
Buku ini awalnya
diterbitkan pada 1951 oleh Balai Pustaka. Yayasan Obor kemudian menerbitkan
ulang pada 2018. Saya sendiri membeli buku ini tahun lalu, namun belum sempat membaca seluruh isinya. Baru, di era pagebluk yang
muram ini, saya berkesempatan menuntaskannya. Dari buku yang ditulis pendiri Harian Indonesia Raya tersebut, saya bisa membayangkan betapa ganasnya amuk
perang di Korea. Bukan cuma pekak desing peluru dan mortir, tapi juga ekstremnya cuaca dingin yang dia
alami bersama para serdadu yang terlibat pertempuran.
Saya sendiri cuma sempat menyaksikan keganasan episode perang dua Korea ini (utara dan selatan), melalui diorama dan penjelasan seorang tur guide berwajah pucat di museum Perang Korea, saat berkunjung ke negeri Ginseng pada 2016 lalu. Bersama beberapa jurnalis Asia Tenggara lainnya, saya juga berkesempatan mengunjungi Taman Makam Pahlawan di negeri tersebut.
Di tempat itu,
tentara dari berbagai bangsa yang terlibat dan menjadi korban pertempuran
Perang Korea, dimakamkan. Saya juga baru
tahu, tidak hanya pasukan Amerika yang ikut bertempur dalam perang itu,
tapi juga negara-negara Asia dan Eropa, seperti Filipina, Thailand, bahkan
Turki dan Yunani. Saat kunjungan tersebut, seingat saya, salah seorang rekan
wartawan dari Thailand , diberi kesempatan meletakan karangan bunga di makam
tersebut.
Meski berbagai jalur
perundingan dan upaya penyatuan dilakukan, termasuk dengan mengirim kontingen
bersama pada perhelatan Asian Games 2018 di Jakarta, faktanya, hingga hari ini,
Korea masih terbelah. Satu berkibar di dunia dengan produk pop culture,
otomotif, serta elektroniknya. Satu lainnya asyik bermain-main dan berpetualang dengan
proyek misil dan nuklirnya. Saya
berharap, suatu saat mereka bersatu dan menjadi kekuatan penyeimbang hegemoni Tiongkok
dan Amerika, dua negara yang ikut bertanggung jawab mencerai-beraikan negeri
itu.(*)
#Koreanwar #Perangkorea #Dramakorea #Korea #Peace #internationalpeaceday #hariperdamaianinternasional #History #Politic #Economy








